DILEMA INDONESIA EMAS 2045 ATAS BONUS DEMOGRAFI
(Menjadi sebuah Berkah ataukah Bencana dan analisisnya menggunakan metode VUCA (Volatility, Ucertainty, Complexity, dan Uncertainty ))
Indonesia akan mendapat bonus demografi pada antara tahun 2020-2030. Menurut kalkulasi Badan Pusat Statistik (BPS) puncak bonus demografi di Indonesia yaitu pada tahun 2028. Bonus demografi merupakan suatu kondisi di mana komposisi jumlah penduduk yang berusia produktif lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk usia tidak produktif. Penduduk usia produktif adalah penduduk yang berada pada rentang umur 15-64 tahun. Kesempatan ini tentu harus dimanfaatkan dengan sangat optimal untuk membangun kesiapan menuju era Indonesia Emas 2045. Namun, bonus demografi yang diperoleh Indonesia bagaikan dua sisi mata uang, ada sisi positif dan negatifnya. Bisa saja bonus demografi yang akan diperoleh Indonesia malah menjadi malapetaka atau justru sebaliknya. Dengan ketidakpastian ini, bonus demografi merupakan topik yang dapat dijelaskan dengan metode VUCA. VUCA adalah suatu konsep yang mendeskripsikan mengenai tantangan masa depan dan sifat perubahan yang sedang dan akan dihadapi dunia. VUCA menjelaskan situasi ketika ancaman dunia tersebar dan tidak pasti, konflik bersifat inheren namun tidak dapat diprediksi dan kemampuan kita untuk mempertahankan dan mempromosikan kepentingan nasional yang mungkin dibatasi oleh kendala sumber daya material dan personal (Identitas Mahasiswa, KAT ITB 2020).
Unsur yang pertama dalam VUCA adalah Volatility atau volatilitas, Volatilitas dapat diartikan sebagai ukuran statistik yang menggambarkan jumlah ketidakpastian tentang ukuran perubahan. Bonus demografi ini tidak dapat diprediksi secara kuantitas dengan tepat. Kita tidak bisa menghitung dengan pasti angka pertumbuhan penduduk usia produktif pada rentang tahun 2020-2030. Bukti kasus aktual yang terjadi baru-baru ini adalah polemik sistem penerimaan peserta didik baru DKI Jakarta. Banyak calon siswa baru yang tidak dapat melanjutkan sekolah karena masalah umur. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah dalam menanggulangi ledakan penduduk usia muda karena ketidakmampuan pemerintah menganalisis kuantitasnya.
Unsur kedua dalam metode VUCA adalah Uncertainty (ketidakpastian). Bonus demografi bersifat uncertainty karena kita tidak dapat tahu apakah benar puncak pertumbuhan usia produktif di Indonesia pada tahun 2028 dan apakah pada tahun 2030 pertumbuhan usia produktif secara besar-besaran terhenti.
Unsur ketiga dalam VUCA ialah complexity atau kompleksitas. Kompleksitas adalah komponen yang mengacu pada keterhubungan setiap komponen terhadap komponen lainnya dalam suatu sistem. Kita tidak dapat menduga dengan pasti apakah bonus demografi merupakan sebuah keuntungan atau kerugian karena banyak sekali faktor-faktor yang memengaruhinya yang saling berkaitan satu sama lain. Faktor-faktor tersebut antara lain, pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan. Pendidikan adalah komponen paling utama karena pendidikan akan modal landasan berpikir dan beranalisis serta mengambil tindakan dan keputusan. Kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang harus dimiliki oleh setiap insan agar dapat berkarya dengan nyata. Faktor selanjutnya adalah lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan sangat diperlukan agar ledakan usia produktif dapat menyalurkan potensinya sebagai penggerak bangsa. Tanpa adanya lapangan pekerjaan, ledakan usia produktif hanyalah menjadi beban Negara. Jika pendidikan sudah disiapkan dengan baik oleh pemerintah namun disisi kesehatan belum disiapkan dengan baik, maka proses untuk menempuh pendidikan pun menjadi kurang optimum. Seperti dengan pernyataan yang sering sekali kita dengar, “dibalik tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Jika pendidikan dan kesehatan bagus memang akan menciptakan insan yang unggul. Namun, tentu saja jika lapangan pekerjaan tidak mendukung atau tidak memadai, keberadaan insan yang unggul akan menjadi sia-sia. Maka selain ketiga faktor tersebut dibutuhkan kreatifitas dan sikap adaptif untuk terus-menerus maju dan dapat mendongkrak masa emas Indonesia 2025. Mungkin ada beberapa segelintir faktor lagi yang akan saling berkaitan disamping faktor-faktor yang sudah dipaparkan. Oleh karena itu, bonus demografi bersifat kompleksitas.
Isu mengenai bonus demografi sangat penting karena menyangkut bangsa dan negara Indonesia. Selain itu, Indonesia akan mengalami masa emas pada tahun 2045. Bonus demografi walaupun bersifat tak terduga, tak dapat diprediksi penyebabnya, kompleks, serta tidak jelas hubungan sebab dan akibatnya tetapi pasti akan kita hadapi.
Cara kita untuk menghadapi tantangan bonus demografi ini ialah fokus kepada apa yang masing-masing kita dapat lakukan. Dalam buku filosofi teras karya Henry Manampiring, terdapat istilah dikotomi kendali. Jadi, dalam hidup ini ada hal yang dibawah kendali kita dan ada hal yang tidak dibawah kendali kita. Hal yang berada dibawah kendali kita bersifat merdeka dan sepenuhnya bisa kita kontrol. Sedangkan, hal yang tidak dibawah kendali kita bersifat rapuh dan tidak merdeka. Oleh karena itu, kita harus fokus kepada hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan dan usahakan. Jangan berfokus kepada hasil dari bonus demografi tetapi fokuslah pada prosesnya. Jangan lupakan pula the power of minset. Aturlah pikiran kita agar terus-menerus percaya bahwa kita akan mampu melalui ini semua dan mendapatkan yang terbaik. Jika kita berpikiran optimis seperti itu, maka otak dan pikiran kita pun akan terus-menerus mencari cara untuk mewujudkan pola pikir di atas.
#DuniaVUCA
#OSKMITB2020
#TerangKembali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar